Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019
PUISI EPIK, LIRIK, DRAMATIC, ROMANCE & ELEGI DARAH PARA PEJUANG- PUISI EPIK Oleh : Lillah Izzati Kamilah Di bawah naungan kibaran sang Merah Putih Berdirilah pusara-pusara hitam putih Tersembunyi diantara pandangan tak bertepi Hanya rembulan pucat yang menerangi Merekalah para pemilik kekuatan Merekalah para pemilik kesabaran Merekalah para pemilik kamauan Merekalah pahlawan Membantu rakyat dikala lelah Menghibur rakyat dikala gundah Menghapus segala derita yang mendera Dengan berjuang hingga akhir nyawa HUJAN SORE ITU -PUISI LIRIK Oleh : Lillah Izzati Kamilah Kala hujan sore itu Aku terpaku Dibawah awan sore kelabu Dan desir angin serasa beku Tetesan air menghujam bagai sembilu Merasuk jiwa menghentikan waktu Perpisahan itu Merampas seluruh kesadaranku Tau-tau kau sudah berlalu Membawa serta setengah hatiku Aku terpaku Tergugu di bawah derasnya hujan sore itu SINAR REMBULAN - PUISI DRAMATIC Oleh : Lillah Izzati Kamilah Ang...
Kekasihku Diseberang jalan Karya : Imam Hamzah S. Pd Pemain: Abdul (Pengusaha, usia 34 tahun). Sulas (Istri abdul. Usia 32 tahun). Suci (Putri dari sulas dan abdul). Gila (Tetangga) Perempuan Tua (ibunya bagus). Ecep (karyawan 2). Ucup (karyawan 3). Mbul (karyawan 1). Orang misterius Polisi Pak ja’uh (Pedagang) Waktu mau memasuki subuh. Suasana masih hening-heningnya. Terlihat disaamping rumah hanya ada seorang laki-laki yang dekil tak pernah mandi dan biasa orang disana menyebutnya si gila. Dia terlihat sedang berbaring sambil memikirkan sesuatu. Tiba saja seorang perempuan tua datang menghampiri si gila tersebut. P. Tua: bagaimana kabarmu ? Gila: (hanya terdiam) P. Tua: ini makanlah dulu. Gila: (hanya terdiam sambil melihat perempuan tua yang menghampirinya) P. Tua: kau nampak makin kurus. ( dengan rasa kasihan). Gila: (tetap diam). P. Tua: Pulanglah. Gila: (tidak menjawab). P.tua: sudah 18 tahun kamu berdiam disini. Gila: (hanya terdiam). P. Tua: Cukupkan ...

Naskah kuno sasak

NASKAH KUNO DALAM MEMAHAMI BUDAYA DAN AGAMA Penelusuran naskah kuno berlangsung hanya sehari, tepat pada 19 Oktober 2019 pukul 16:00 WITA saya berkunjung ke salah satu sanggar wayang di daerah Mataram, alhamdulillah saya merasa dipermudah oleh Allah SWT.  Sebelumnya saya sudah mengenal informan yang akan saya datangi. Karena beberapa kali belajar bermain wayang bersama beliau atau sering disapa Mamiq sadar selaku informan yang bertempat tinggal di Kekalik Jaya. Mamiq sadar atau lengkapnya bernama Sadarudin Ki Ajeng Maringgih ini selaku ketua sanggar amiranjili kota mataram, aktif sebagai budayawan NTB, dan sekaligus guru saya dalam mempelajari dunia wayang khususnya bermain alat musik tradisional. Mamiq sadar pun bergulat pada dunia wayang sejak masih muda dan sebagai penerus dari almarhum ayahnya. Mamiq bercerita mengenai sebuah pengalaman yang dirasa perlu untuk memotivasi kita mempelajari naskah kuno. Pada suatu hari, Mamiq Sadar melakuan pertunjukan wayang yang seperti kita k...