Kekasihku Diseberang jalan
Karya : Imam Hamzah S. Pd
Pemain:
Abdul (Pengusaha, usia 34 tahun).
Sulas (Istri abdul. Usia 32 tahun).
Suci (Putri dari sulas dan abdul).
Gila (Tetangga)
Perempuan Tua (ibunya bagus).
Ecep (karyawan 2).
Ucup (karyawan 3).
Mbul (karyawan 1).
Orang misterius
Polisi
Pak ja’uh (Pedagang)
Waktu mau memasuki subuh. Suasana masih hening-heningnya. Terlihat disaamping rumah hanya ada seorang laki-laki yang dekil tak pernah mandi dan biasa orang disana menyebutnya si gila. Dia terlihat sedang berbaring sambil memikirkan sesuatu. Tiba saja seorang perempuan tua datang menghampiri si gila tersebut.
P. Tua: bagaimana kabarmu ?
Gila: (hanya terdiam)
P. Tua: ini makanlah dulu.
Gila: (hanya terdiam sambil melihat perempuan tua yang menghampirinya)
P. Tua: kau nampak makin kurus. ( dengan rasa kasihan).
Gila: (tetap diam).
P. Tua: Pulanglah.
Gila: (tidak menjawab).
P.tua: sudah 18 tahun kamu berdiam disini.
Gila: (hanya terdiam).
P. Tua: Cukupkan saja semuanya sekarang.
Gila: (dengan nada sendu si gila pun berkata) tidak usah menghkawatirkanku.
P. Tua: kenapa berkata seperti itu ?.
Gila: (ia hanya terdiam.)
P. Tua: dengarlah baik-baik. Cara yang kamu lakukan ini sudah terlalu berlebihan. Setiap hari kerjaanmu hanya melihat ke dalam rumah itu, Dan setiap kali pula matamu menatap ke dalamnya, selalu ada derita yang kamu keluarkan. Dan itu kamu lakukan selama 18 tahun !
Gila: tidak usah membahas berapa lama sebuah penderitaan yang aku alami. Engkau tidak tau apa yang aku rasakan disini.
P. Tua: aku lebih tau dari siapapun.
Gila: jangan jadikan dirimu tuhan yang maha tau
P. Tua: jangan terlalu kejam terhadap perempuan tua seperti saya.
Gila: kejam hanya bagi mereka yang tidak berterima. Apakah dari tadi engkau tidak kejam terhadap saya ?
P. Tua: Tidakkah kamu melihat orang-orang di sini ? Meeka semua memanggilmu si gila. Apa kamu tidak malu pada dirimu sendiri ?
Gila: tidak usah berlebihan seperti itu. Ini adalah kemauan yang saya pilih.
P. Tua: ya kemauan. Asal kamu tau, semua orang mempunyai kemaunya masing-masing. Tapi terkadang kemauan itulah yang membuat seseorang lupa pada dirinya.
Gila: lupa hanya bagi mereka yang tidak pernah ingat. Dan sampai sekarang aku masih mengingat semuanya, menyimpannya dalam sebuah kemauan meski harus kulupakan diriku sendiri.
P. Tua: kamu ini sangat keras kepala. Sampai kapan hidupmu akan seperti ini ?menyerahlah, hidupmu kini macam binatang saja !
Gila: biarlah aku seperti binatang, tidak usah di pedulikan.
P. Tua: tidak usah di pedulikan ?.
Gila: ya.
P. Tua: Cukupkan sampai disini kataku. Semuanya akan sia-sia, pulanglah !
Gila: tidak usah perdulikan aku !
P. Tua: baiklah jika itu jawabanmu. Jika ada keinginan dalam hatimu untuk pulang, lekaslah, jangan membuang waktu disini sebagai seorang pecundang.
Gila: (haanya terdiam sambil menghela nafas panjang).
Perempuan tua itu pun pergi . Terdengar suara si gila bernyanyi dengan nada yaang kecil.... Setelah itu terlihat seorang laki-laki keluar dari rumah. Ia menggunakan baju kemeja dan celana panjang rapi dan duduk di kursi. Terlihat ia sedang menunggu seseorang.
Abdul: kenapa lama benar mereka datang !. Padahal sudah jam segini, dasar pemalas. Giliran meminta gaji cepat sekaali datangnya, pas giliran seperti ini, lama benar macam keledai. Awas saja nanti, gajinya pasti akan kupotong. (Setelah terdiam suamipun memanggil istrinya). Las, sulaassss.
Sulas: iya mas.
Abdul: ambilkan aku rokok dia atas meja.
Sulas: iya tunggu sebantar.
Abdul: jangan lupa buatkan aku kopi juga.
Sulas: iya.
Abdul: (setelah menunggu sulaspun belum juga datang). Sulass apa yang kau kerjakan didalam sana ? Kenapa lama benar ?(Sulaspun keluar membawa rokok dan kopi.). kenapa lama sekali ?
Sulas: maaf mas, airnya tadi belum panas. Makanya lama.
Abdul: kenapa tidak masak air dari semalam dan kau taruh didalam termos ?
Sulas: lupa mas.
Abdul: lupa ?. Sudah tahu setiap hari aku tidak bisa jauh dari kopi. Kau seharusnya menyiapkannya dari semalam. Sekarang alasanmu lupa ? Kau lupa apa benar-benar tidak mau mengurusiku hah?
Sulas: bukan begitu mas. Aku benar-benar lupa. Lagian tidak hanya satu yang aaku kerjakan di rumah ini. Mas kan tau.
Abdul: apa ? Hahaha dasar. Kerjaanmu kan cuma mengurus rumah saja. Sekarang kau bilang tidak hanya itu yang aku kerjakan ?. Bilang saja kalau kau memang muali bosan mengurusiku kan ?
Sulas: astaga mas. Jangan terlalu beranggapan seperti itu kepadaku. Aku benar-benar lupa.
Abdul: aaaahh katakan saja bahwa itu memang benar. Aku mulai muak mendengar seribu alasan yang keluar dari mulutmu itu !
Sulas: jangan berkata seperti itu kepadaku. Selama ini aku selalu mencoba menjadi apa yang mas inginkan. Beginilah begitulah tapi tetap saja semuanya tidaak pernah benar di matamu.
Abdul: kalau kerjaanmu benar ya tetap akan benar. Jelas-jelas kerjaanmu itu tidak pernah becus.
Kemudian datanglah oraang-orang yang dari tadi ditunggu oleh suaminya sulas.
Mbul : assalamualaikum
Suami daan istri: waalaikum salam
Suami: kau masuk saja ( kepada sulas). Kenapa lama sekali kalian datang ( sambil menyalakan rokok).
Mbul: maaf bos. Tadi di toko kerjaan yang belum selesai.
Abdul: apa yang belum selesai ?.
Ucup: di tokooo..
Abdul: aahh. Dengar Aku mempekerjakan kalian itu bukan untuk santai-santai.
Mbul: maaf bos. Barang-barang yang di pesan kemarin tadi betul sampainya, dan itu harus kami sortir. Makanya kami terlambat datang kesini.
Abdul: sekarang sudah kalian sortir semua?
Ecep: ohhh.... sudah lah bos.
Abdul: bagus. Oh ya, bagaimana perkembangan toko ?
Ucup: lumayan bos.
Abdul: loh kok lumayan ?.
Ucup: ya lumayan bos.
Abdul: kenapa bisa sampai lumayan ?. Apa ada kesulitan ? Atau apa ?
Mbul: tidak ada si bos. Tapi sekarang toko kita mulai jarang ada yang datang untuk belanja.
Abdul: kenapa bisa begitu ? (Dengan nada terheran).
Ucup: Karena sekarang orang-orang lebih sering ke tokonya pak Ja’uh.
Suami: si ja’uh ?. Kenapa bisa ?
Ecep: begini bos. Kata orang-orang harga beras, minyak, rokok, segala sesuatu di toko kita itu terlalu mahal.
Ucup: benar bos. Saya juga setuju sih sama-orang itu. Harga di toko kita terlalu mahal. Wajar saja orang-orang ke tokonya pak Ja’uh. Masa kondom saja harganya 30 ribu. Iya kan cep ?
Ecep: iya cup. ( keduanya tertawa)
Mbul: eh... jangan berkata seperti itu nanti bos marah.
Abdul: ah sudah-sudah. Pokoknya aku tidak mau tau. Toko itu harus rame lagi. Bagaimana pun caranya.
Ucup: bagaimana pun bos ?
Abdul: bagaiman pun.
Ucup: baiklah bos kalau begitu...
Abdul: awas saja kalau toko tidak rame. Kalian tidak pernaah mendapatkan gaji !!
Ecep: haaahh. Wah wah jangan begitu dong bos. Kemarin gaji kami di potong. Nah sekarag masa tidak di kasih gaji. Bisa makan batu anak istri dirumah.
Abdul: makan tiang sekalian saya tidak perduli.
Ucup: wah kalau begini caranya bisa berabe cep.
Ecep: aahh matilah kita cup.
Mbul: eh cep, cup.
Abdul: sudah-sudah. Persetan dengan kalian, harga, dan gaji juga. Pokoknya saya tidak mau tau apapun alasan kalian. Toko kita harus rame !!!
Mbul: baik bos.
Abdul: apa yang kalian tunggu ?
Ucup: ee begini bos. Kan pas tadi kami kesini naik ojek nah uang kami habis tadi buat bayar ojek. Jadi tidak ada uang lagi.
Abdul: terus kalian mau apa ?
Ucup: m m m m minta ongkos dong bos
Abdul: oh ongkos ?
Ucup: eee iya bos ongkos
Abdul: tunggu sebentar ya( masuk ke dalam rumah)
Ucup: wah cep, tumben benar bos kita baik itu hatinya
Ecep: iya cup. Mimpi apa dia ya.
Ucup: mungkin kesurupan cep hahahaha
Ecep: bisa jadi cup. Bayangkan orang yang paling pelit di negeri ini tiba-tiba menjadi baik... lluuuaaaarrr biaaasss cup
Ucup: luaaaaarr biasa.. cep maanteepp
Mbul: Cep Cup ( sambil mengedipkan mata)
Ecep: apa sih kamu mbul. Eh cup seemoga saja bos kita tiap hari kesurupan ya.
Ucup: ammmiiinn ya alllah
Mbul: ecep, ucup. Itu itu.... (langsung pergi diam-diam).
Ucup: apa sih mbul. Laah wooy kenapa pergi ?. Aaah dasar si gembul, uang kok di tolak.
Abdul: eheem. ( sambil membawa golok)
Ucup: innaillahiwainnailahirajiun.
Abdul: apa ? Jadi mau minta ongkos ?
Ecep: ah tidak bos lebih baik kami jalan kaki saja. Biar sehat. Ia kan cup ?
Ucup: ia cep. Lebih baik jalan kaki saja.
Ecep: cup... hitung mundur
Ucup: 3 2 1. Llaaaarrriiiiiii cuuuuppp..
Ecep: tungguuuu....
Abdul: dasar pekerja tidak tau diri, sudah tau toko mulai sepi, malah minta uang.
Para pekerja itu pun pergi. Sementara itu si gila tetap saja melihat ke dalam rumah. Sedang abdul sibuk memikirkan masalah tokonya yang tidak ada perkembangan.
Abdul: kenapa bisa toko si Ja’uh bisa lebih ramai dari toko saya sekarang. Padahal dulu tidak seperti ini. Aaahh masa masalah harga di jadikan alasan. Atu mungkin si Ja’uh menggunakan jampi-jampi ?. Waah ini tidak bisa di biarkan. Sepertinya aku sendiri harus turun tangan. Bagaiamanpun caranya toko si Ja’uh harus hancur. Awas saja kamu ja’uh berani-beraninya bersaing denganku. Rupanya kamu belum tau siapa si Abdul orang paling kaya di kampung ini.
Setelah itu si abdul pun pun pergi tanpa berfikir lagi. Sedang si gila mulai bernyanyi dengan suara yang kecil, memperhatikan ke dalam rumah. Keluarlah suci anaknya sulas dengan membawa sebuah buku dan si gila memperhatikannya... tiba-tiba sulaspun keluar..
Sulas: baca buku apa nak ?
Suci: buku puisi bu..
Sulas: puisinya siapa ?
Suci: sapardi.
Sulas: sapardi djoko damono ?
Suci: iya, kenapa bu ? (Melihat wajah sulas yang terdiam)
Sulas: ah ? Tidak apa-anak nak.
Anak: bisakah ibu mendengarkan saya membacanya ?
Sulas: ah ?
suci pun mulai membaca puisi aku, sedang sulas terdiam, air matanya menetes karena teringat sesuatu
Suci: kenapa ibu menangis ?
Sulas: tidak ada. Ibu mau masuk ke dalam dahulu.
Sulas pun masuk ke dalam rumah. Suci pun mengejar ibunya namun tertahan karena mendengar suara si gila yang mengulang puisi aku dengan nada yang sendu.
Gila: aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Suci: (suci hanya terdiam memandang si gila dengan rasa heran).
Gila: sudah 18 tahun aku berada disini. Mengabdikan rasa yang tak sempat di abadikan. Waktu tidak terasa cepatnya. Hari berganti bulan pun terganti. Waktu berlalu. Kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa pula tuhan menghukumku dengan cara seperti ini. Sudah sangat lama aku menantikam sebuah cahaya di seberang jalan. Namun tak kunjung datang karena gelap terlalu pekat. Aku teringat ketika kami sedang duduk di perpustakaan. Membuka selembar puisi dan kami membacanya. Gelak tawa bahagia akan cinta terasa. 6 tahun lamanya kami menjalin cinta. Di bangun oleh air mata. Setiap detik yang terlewati adalah saksi kesetiaan akan cinta yang kami perjuangkan. Setiap waktu yang terlewati pula merupakan bukti dari segala yang kami perjuangkan.
Suci : apa ? (Mendekati si sgila)
Gila: ya, kata orang cinta adalah sebuah petaka yang menakutkan. Sebab jika salah jalan semua akan terasa seperti engkau terbawa oleh arus tanpa sedikitpun bisa berenang.
Suci : cinta adalah sebuah petaka ? Arus yang menakutkan ? Apa yang sedang kamu bicarakan ?
Gila: mungkin takdir yang terlalu kejam atau mungkin sebuah pilihan yang terlalu membunuh. Apakah kita bisa mengulang kembali semuanya ?
Suci: mengulang ? Apa yang akan di ulang ?
Gila: bagiku, engkau adalah sebuah kejahatan. Menanamkan rindu. Dan menyiksa tanpa bekas-bekas luka. Ya kau jadi rindu itu sebagai penyiksaan tanpa bekas-bekas luka.
Suci: apa yang sedang kamu bicarakan ?
Gila: dia sudah menjadi milik orang lain.
Suci: siapa itu ?
Gila: sewaktu ia akan pergi. Ia berkata “ kita telah menjadi sepasang kekasih yang akan selalu saling mencintai. Berjanjilah cinta kita akan tetap sama”. dan ia pun pergi entah kemana.
Suci: kenapa ia pergi ? Apakah kalian sudah tidak saling mencintai?
Gila: aku mencarinya, tapi tak kutemukan. Akhirnya kuputus asaan datang dalam hatiku. Dunia yang telah terbangun oleh cinta selama 6 tahun lamanya hancur oleh sebuah kata perpisahan dari mulutnya yang kejam ! ( meneteskan air mata )
Suci: aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan ?
Gila: siapa yang harus kupersalahkan? . Padahal sekarang kita hidup dalam kedekatan yang teramat. Tapi mengapa terasa jauh. Sangat jauh. Tombok itu telah memisahkan kita. ( ia pun kembali tertidur ke tempatnya sambil meneteskan air mata).
Suci: kenapa menangis ? Apa yang sebenarnya terjadi ?
Gila: (hanya terdiam dan memeluk tubuhnya tak mengucapkan sepatah kata lagi).
Suci: cinta itu malapetaka. Sebuah kejahatan. Rindu yang menyiksa tanpa bekas. Tembok pemisah. Apa yang sebenarnya dari tadi ucapkan orang gila. Kenapa dia berbicara tentang cinta ?. Kenapa dia menangis ?. Kenapa dia begitu keliahatan terluka ?.
Datanglah suaminya sulas dengan muka kesal dan penuh dengan amarah.
Suci: pak.
Abdul: iya apa ?
Suci: apakah cinta itu sebuah penyiksaan ?
Abdul: kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu ?
Suci: aku hanya ingin tahu. Apakah benar cinta itu adalah sebuah penyiksaan. Bahkan sebuah kejahatan yang teramat
Abdul: kamu ini masih kecil tapi bahasamu seperti orang dewasa saja.
Suci: ya kan hanya ingin tau pak.
Abdul: ya sudah.
Suci: lah terus jawabannya apa pak ?
Abdul: baik. Begini jadinya. Cinta itu adalah sebuah anugrah dari tuhan. Jadi segala sesuatu yang diberikan oleh tuhan terlebih itu cinta tidak ada penyiksaan.
Suci: terus kenapa orang sampai-sampai tidak mengenal dirinya karena cinta ?
Abdul: itu karena mereka sendiri.
Suci: berarti bukan cinta yang kejam?
Abdul: ya bukan. Ah sudah jangan bahas masalah cinta-cinta. Bikin puising saja.
Suci: lah kok pusing pak ?
Abdul: ya pusing. Dari pada ngomong cinta, lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam terus belajar.
Suci: terus kenapa bapak pusing ngomong masalah cinta. Berarti bapak dulu pernah...
Abdul: kamu ini banyak tanya. Sudah masuk ke dalam sana!. (Suci pun masuk ke dalam). Kenapa anak itu membahas masalah cinta. Kesambet jin apa dia itu. (Menyalakan rokok kemudian terdiam). Cinta ya ? Ternyata lucu juga mendengar si suci ngomong masalah cinta. Iya memang benar cinta itu adalah penyiksaan. Terlebih bagiku adalah sebuah kekecewaan. (Terdengar suara panggilan dari luar abdul pun tersadar.)
Orang misterius: booss
Abdul: siapa ? Ah, bagaimana?
Orang misterius: sudah bos.
Abdul: bagus. Tidak ada yang melihat kan
?
Orang misterius: tidak ada seorangpun yang melihat bos.
Suami: baguss. Ini buatmu. Nah sekarang kamu pergi dari kampung ini. Jangan sampai ada orang yang tau.
Orang misterius: baik bos. Kalau begitu saya pergi dulu.
Suami: iya cepat. Ingat jangan sampai ada yang melihat.
Pekerja 4: baik bos. Permisi....
Suami: (tertawa dengan girang).. sekarang tidak akan ada lagi yang menjadi sainganku.
Sulaspun keluar dari rumah karena mendengar abdul berbicara sama seseorang.
Sulas: ngomong sama siapa mas ?
Abdul: tidak ada.
Sulas: tadi saya mendengar mas ngomong.
Abdul: iya, tadi aku ngomong sama si gila.
Sulas: hah ? Mas ngomong apa ?
Abdul: Tidak penting.
Ketika abdul dan istrinta sedang ngobrol datanglah paraa pekerja dengan gupuh nafashya terengah karena kelihatan dia berlari menuju rumah abdul.
Ucup: bosssss
Abdul: ada apa ?
Mbul: ada kabar bos.
Ucup: betul bos. Kabar baik dan buruk.
Sulas : kabar baik dan kabar buruk ?
Ucup: betul nyonya.
Abdul: baik buruknya apa ?
Ucup: mau baik dulu apa buruk dulu bos?
Abdul: kamu maunya apa ? Mau parang atau mau di hajar ?
Ucup: anu bos. Tokonya pak ja’uh
Sulas: tokonya kenapa ?
Ucup : tokonya terbakar nyonya.
Sulas: innalillahiwainnailahirajiun. Kenapa bisa ?
Abdul: hah, tokonya si ja’uh terbakar ?
Mbul: betul bos.
Abdul: alhamdulillah
Mbul: lah kok alhamdulillah bos ?
Abdul: ya karena sekarang tidak ada lagi yang menjadi sainganku.
Ucup: astaga bos. Bisa-bisanya berkata seperti itu. Apa dulu pas sekolah tidak pernah di ajarkan prikemanusiaan ?
Mbul: eh cup.
Ucup: apa ?
Mbul: Bos kan tidak pernah sekolah.
Ucup: oooh pantes.
Abdul: apa kamu bilang ?. Oh sekarang sudah berani sama saya ya ?
Ucup: a a a maaf bos bukan begitu.
Abdul: aaah setan. Eh cup, dengar, dengan terbakarnya toko pak ja’uh otomatis toko kita akan ramai lagi nanti sebab tidak akan ada saingan. Paham kamu ?
Ucup: oh betul juga bos..
Abdul: makanya alhamdu....
Ucup dan mbul: lillah
Sulas: mas tidak boleh berkata seperti itu. Tidak baik.
Abdul: aaah sudah diam saja kamu. Katakan yang baiknya apa ?
Mbul: seperti yang bos bilang tadi toko kita mulai ramai lagi gara-gara tokonya pak ja’uh terbakar. Rata-rata sekarang orang-orang itu belanja di toko kita.
Abdul: apa aku bilang. Betul kan ?
Ucup: betuuull bos. Ya sudah kalau begitu kami balik ke toko dulu.
Abdul: ya sana.
Mbul: mari bos. Assalamualaikum
Sulas & abdul: waalaikumsalam.
Suci: mas tidak boleh berkata seperti tadi.
Abdul: kamu mulai lagi !
Suci: bukan begitu. Tapi tidak baik mas. Seharusnya kita mendoakan semoga pak ja’uh bisa tabah dalam menghadapi ujiannya.
Abdul: alah kamu ini mulai ceramah. Jadi saja ustazah. Jangan jadi istriku
Sulas: lah kok mas berkata seperti itu. Kan maksud sulas baik.
Abdul: aaaah persetan dengan maksud baikmu. Kalau tidak tahu apa-apa diam saja.
Sulas: kenapa mas begitu kasar terhadap saya ? Kenapa selalu saja mas marahi saya ?
Abdul: fikir saja sendiri
Sulas: Dari awal kita memabngun sebuah rumah tangga. Mas tidak pernah halus mengahadpi saya. Apa sebenarnya yang saya perbuat sampai mas seperti ini ?
Abdul: apa yang telah kamu perbuat ? Hahahha memangnya kamu tidak merasa ?
Sulas: apa mas ?
Abdul: dari dulu sampai sekarang kerjaanmu ikut campur urusan saya !
Suci: kan saya istri mas.
Abdul: ya memang. Tapi kamu telah mengecewakan saya.
Sulas: mengecewakan ? Apa maksudmu ?
Abdul: apa maksudku ? Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh hah ?
Sulas: kan dulu mas sendiri yang berkata bahwa mas mencintai saya apa adanya
Abdul: haahah. Eeh sulas kamu tau. Aku memang mengatakan hal itu. Sebab tidak ada pilihan lain. Kaalau saja aku tau lebih cepat tidak mungkin aku sudi menikah denganmu !
Coba kamu tanyakan pada seluruh suami di dunia ini kalau dia mendapatkan istri seepertimu pasti sudah dulu kamu diceraikan.
Sulas: sampai hati mas berkata seperti itu.
Abdul: ya sampai hati. Sekarang aku malah bertanya-tanya apakah si suci benar-benar anakku atau bukan.
Sulas: cukup jangan katakan apa-apa lagi. Kalau memang ini terlalu memberatkan ceraikan saja aku serakang !
Abdul: hah cerai ? Coba ulangi ?
Sulas: ceraikan saja aku sekarang !
Abdul: hahaha setan alas. Kenapa tidak dari dulu kamu minta hal ini ? Sekarang juga kamu pergi dari rumah saya. Bawa sekalian anakmu itu !
Sulas: baik, aku akan pergi. Asal kau tahu saja selama ini hatiku memendam pengap. Kau fikir aku juga sudi menikahmu denganmu hah ? Kalau saja orang tuaku dulu tidak memaksaku menikah denganmu tidak mungkin aku akan mau menikah seperti orang sepertimu. Tanyakan pada istri disulurh jagat raya ini, kalau mendapatkan suami sepertimu semuanya bakal bunuh diri karena sikap kerasmu itu !!!
Abdul: anjing diam kamu... (mau menampar tapi dihentikan oleh si gila)
Gila: tidak baik berkata seperti itu kepada perempuan, apalagi mau menampar.
Abdul: apa urusanmu setan ?
Gila: tidak ada. Hanya saja tidak baik seperti itu.
Abdul: anjing... kamu mau ikut campur urusan saya rupanya !!!
Sulas: sudaaahhh (dengan suara keras). Jangan kamu sentuh dia. Jangan kamu berani lukai dia bangsat !
Abdul: hahahha apa ? Jangan sentuh dia ? Kenapa kalau aku menyentuh dia ?
Sulas: jangan berani untuk menyentuh dia. Kalau kau berani aku akan membunuhmu.
Abdul: membunuhku ? Apa yang kamu katkana ? Hahahhaha apa kamu sudah gila ?
Sulas: iya aku sudah gila !
Abdul: baiklah. Kalau begitu kalian berdua pergi saja keneraka !!!! ( mau menikam tapi polisi datang seketika itu juga)
Polisi: letakkan pisau itu !
Abdul: ada apa ini ?
Polisi: maaf kami anda tahan karena telah melakukan pembakaran terhadap tokonya pak ja’uh.
Abdul: saya tidak pernah membakarnya!. Tuduhan apa ini ?
Polisi: ya anda memang tidak melakukannya. Tapi anda menyuruh orang untuk membakar toko itu.
Abdul: apa ? Siapa yang menyuruh ?
Polisi: silahkan ikut kami kekantor.
Abdul: saya tidak pernah melakukannya. Tuduhan macam ini. Setan siapa yang melakukan ini padaku. Anjing kalian berdua, tunggu saja, aku pasti membunuhmu setaaannnnnn... ( sambil di geret oleh polisi).
Tiba-tiba suasana hening. Si gila dan sulas hanya terdiam saling menatap. Terlihat sulas sangat cemas dan takut ke pada si gila. Ia pun mencoba berbicara.
Sulas: bagaimana kabarmu ?
Gila: tidak usah bertanya. Kau sudah tahu.
Sulas: jangan berkata seperti itu.
Gila: aku apa kamu yang harus tidak berkata seperti itu.
Sulas: tidak seharusnya kita menyalahkan siapa yang berbicara. Sebab ia keluar sendirinya dari mulut.
Gila: benar. Tidak seharunya kita menyalahkan siapa yang berbicara. Tapi bukan karena ia keluar dari mulut. Melainakan ia keluar karena sebuah kekejaman.
Sulas: kekejaman itu anya untuk mereka yang tidak berterima gus.
Gila: haha.. pandai sekali kamu berkata seperti itu.
Sulas: aku tidak suka melihatmu seperti ini
Gila: kamu kira aku suka ?
Sulas: aku tau kamu tidak suka.
Gila: terus kenapa berkata seolah-olah kamu tidak tahu.
Sulas: aku hanya tidak tau apa yang harus aku katakan padamu.
Gila: katakan saja kesalahanmu. Dengan begitu aku akan berterima
Sulas: salahku ?
Gila: lalu siapa lagi ?
Sulas: Bukannya sudah kukatakan padamu sebelumnya.
Gila: ya, di perpustakaan tanggal 17 september. Kamu berkata kepadaku bahwa tidak ada selain diriku yang kamu cintai. Bahwa aku adalah satu-satunya kekasihmu. Kamu sendiri yang mengatakan itu bukan ?
Sulas: (hanya terdiam)
Gila: lalu kamu sambung. Bahwa senyuman yang selalu aku ciptakan untuk bibirmu adalah sebuah kebahagaiaan. Kamu berkata bahwa tidak selain diriku yang mampu membuatmu bahagia. Benar ?
Sulas: (tetap terdiam, airmatanya pun menetes)
Gila: lalu kamu sambung bahwa kita harus menciptakan jarak agar kita tahu bagaimana rasa dari sebuah rindu yang sebenarnya.
Sulas: (meneteskan air mata)
Gila: lalu kamu pergi. Meninggalkanku.
Sulas: kamu masih mengingat semuanya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutku terangkum betul di kepalamu. Tapi gus, aku tidak pernag meninggalkanmu.
Gila: kalau bukan meninggalkan lalu apa namanya ?
Las, kamu telah berhasil membuatku mengerti rindu itu apa. Bahkan aku sudah mengerti akan segala sesuatu yang kita sebut cinta itu sekarang. Ia adalah sebuah penyiksaan.
Sekarang aku bertanya. Apakah kamu telah mengatahui bagaimana perasaan rindu yang sebenarnya itu ?
Sulas: ya aku mengerti. Ia adalah sebuah keharusan sebab jarak telah kita ciptakan dan itu kusebut sebagai rindu.
Gila: bukan hanya jarak. Kamu telah membuat dinding tebal yang tak akan pernah bisa aku tembus. Dari dinding itulah rindu itu menjadi sebuah penyiksaan tanpa bekas-bekas luka!.
Sebelum dinding itu dapat kujumpai. Apa kau tahu ? Aku seperti orang mati yang mencari kuburannya sendiri. Berjalan kesana kemari hanya untuk mencari sebuah alasaan kenapa mesti aku ditinggalkan. Lalu kutemukan kabar dari teman bahwa dia berada di sini.
Sampai kudisni. Kudapati rinduku telah menjadi dinding tebal. Sangat tebal sampai aku tidak dapat menembusnya. Aku hanya mampu melihaat bahwa kekasihku yang dulu telah berada dipelukanku kini ia berada di seberang jalan bersama rindunya yang tak ia mengerti.
Kenapa ? Kenapa kita terasa begitu jauh padahal kita sangat dekat !!!!
Sulas: maafkan aku gus.
Gila: tidak usah meminta maaf.
Sulas: ketika itu aku memang dalam kebingungan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Orang tuaku memaksa betul aku menikah dengan abdul. Aku melawan kemaunnya namun percuma. Bahkan ia ingin membunuh diri jika aku tidak mengikuti kemaunnya. Aku bingung gus. Itu alasan kenapa aku ingin berjumpa denganmu di perpus tanggal 17 september. Aku ingin mengatakan bawa aku lari, mari kita ciptakan sebuah kebahagiaan meski tanpa restu. Tapi aku teringat ke dua orang tuaku.
Gus kamu adalah kekasihku. Tapi orangtuaku adalah hartaku gus. Mengertilah itu bukan kemauanku.
Gila: kamu kira, aku berada di tempat ini karena kemauanku ? Bukan las. Ini semua kemauan hatiku !
Sulas: hatimu ?
Gila: ya hatiku. Hati yang terlalu percaya kepada cinta. Apa kau tahu las, setiap detik yang aku lalui selalu menjelma menjadi sebuah harap. Dan harapan itu ku tumpuk menjadi air mata, lalu keteguk ia dalam-dalam agar tak seorang pun tahu. Bahwa aku telah menghianati tuhan dengan cara mencintai manusia.
Selama 18 tahun ini aku menelan semua. Apa kamu tidak pernah merasakan derita yang aku tanggung ? Kamu sendiri yang berkata kepadaku apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Tapi apa ? Apa yang telah kamu lakukan ?
Setiap hari aku menanti kabarmu setelah kamu ucapkan itu. Sebuah janji yang telah membuatku percaya bahwa tuhan telah memebrikan cinta kepada kita. Dan cinta itu kita bagi bersama-sama. Tapi kamu malah pergi bersama orang lain.
Sulas: gus mengertilah keadaanku waktu itu.
Gila: kapan aku tidak pernah mengerti Las?
Setiap kata yang keluar dari mulutmu selalu kupercayai. Apakah aku pernah mengecewakanmu selama ini ?
Sulas: tidak pernah gus. Tapi kamu juga harus tau. Kamu tidak terluka sendirian sayang.
Gila: apa ?
Sulas: haruskah kita bertengkar dengan cara yang seromantis ini?
Berbicara tentang sakit tidak akan pernah berujung gus. Kalau salah satu dari kita tidak mendapatkan kepuasaan akan apa yang terjadi.
Aku tau deritamu. Aku mengerti bagaiamana sakitmu. Sebab aku pun merasakn semuanya.
Jadi usahlah kita berbicara tentang sakit. Mari kita simpan semua kenangan pahit ini dan kita jadikaan sebuah kebahagiaan.
Lihatkah aku sekarang. Tidak memiliki siapa-siapa. Aku telah diceraikan oleh suamiku dan sekarang hanya ada anaku.
Bisakah sedikit hatimu memafkanku lalu kita bangun impian yang dulu kita susun bersama.
Sekarang kita wujudkan semua itu.
Bagus pun terjatuh sambil memegang dadanya. Ia terkapar kesakitan.
Sulas: kenapa denganmu ?
Gila: tidak apa-apa sayang. (Sambil tersenyum kesakitan)
Sulas: jangan bohong !
Gila: tidak usah kamu fikirkan. Aku baik-baik saja.
Sulas: benar ?
Gila: kapan aku pernah membohongimu sayang.
Sulas: (tersenyum mendengar bagus tidak apa-apa)
Gila: Maafkan sikapku yang tadi. Itu hanyalah sebuah amarah yang aku pendam selama 18 tahun ini.
Sulas: tidak apa-apa sayang. Maafkan aku juga atas semuanya.
Gila: iya sayang. (Menggenggam tangan sulas) bisakah kita melakukan hal dulu sering kita lakukan bersama ?
Sulas: tentu sayang tentu
Gila: kamu saja yang memulainya ( dengan senyuman)
Mereka berduapun berpuisi seperti yang sering mereka lakukan.
Sulas: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Gila: Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Gila: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Sulas: Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Si gila pun terjatuh dan meninggal setelah membaca puisi itu juga. Sulas berteriak sejadi-jadinya dan menangis tersedu-sedu.
Sulas: guss gusss.... kamu kenapa sayang ? (Memeriksa dadanya bagus. Seketika itu pula sulas berteriak dan menangis dengan lantang).
Jangan pergi sayang jangan pergi.
Lihatlah sekarang aku sudah berada disini. Aku sudah menjadi milikmu. Tidak ada lagi dinding yang akan mengahalangi kita.
Bangun sayang. Ayo bangun kekasihku jangan tinggalkan aku disini.
Gussssss jangan pergi.........
Fade Out.
Karya : Imam Hamzah S. Pd
Pemain:
Abdul (Pengusaha, usia 34 tahun).
Sulas (Istri abdul. Usia 32 tahun).
Suci (Putri dari sulas dan abdul).
Gila (Tetangga)
Perempuan Tua (ibunya bagus).
Ecep (karyawan 2).
Ucup (karyawan 3).
Mbul (karyawan 1).
Orang misterius
Polisi
Pak ja’uh (Pedagang)
Waktu mau memasuki subuh. Suasana masih hening-heningnya. Terlihat disaamping rumah hanya ada seorang laki-laki yang dekil tak pernah mandi dan biasa orang disana menyebutnya si gila. Dia terlihat sedang berbaring sambil memikirkan sesuatu. Tiba saja seorang perempuan tua datang menghampiri si gila tersebut.
P. Tua: bagaimana kabarmu ?
Gila: (hanya terdiam)
P. Tua: ini makanlah dulu.
Gila: (hanya terdiam sambil melihat perempuan tua yang menghampirinya)
P. Tua: kau nampak makin kurus. ( dengan rasa kasihan).
Gila: (tetap diam).
P. Tua: Pulanglah.
Gila: (tidak menjawab).
P.tua: sudah 18 tahun kamu berdiam disini.
Gila: (hanya terdiam).
P. Tua: Cukupkan saja semuanya sekarang.
Gila: (dengan nada sendu si gila pun berkata) tidak usah menghkawatirkanku.
P. Tua: kenapa berkata seperti itu ?.
Gila: (ia hanya terdiam.)
P. Tua: dengarlah baik-baik. Cara yang kamu lakukan ini sudah terlalu berlebihan. Setiap hari kerjaanmu hanya melihat ke dalam rumah itu, Dan setiap kali pula matamu menatap ke dalamnya, selalu ada derita yang kamu keluarkan. Dan itu kamu lakukan selama 18 tahun !
Gila: tidak usah membahas berapa lama sebuah penderitaan yang aku alami. Engkau tidak tau apa yang aku rasakan disini.
P. Tua: aku lebih tau dari siapapun.
Gila: jangan jadikan dirimu tuhan yang maha tau
P. Tua: jangan terlalu kejam terhadap perempuan tua seperti saya.
Gila: kejam hanya bagi mereka yang tidak berterima. Apakah dari tadi engkau tidak kejam terhadap saya ?
P. Tua: Tidakkah kamu melihat orang-orang di sini ? Meeka semua memanggilmu si gila. Apa kamu tidak malu pada dirimu sendiri ?
Gila: tidak usah berlebihan seperti itu. Ini adalah kemauan yang saya pilih.
P. Tua: ya kemauan. Asal kamu tau, semua orang mempunyai kemaunya masing-masing. Tapi terkadang kemauan itulah yang membuat seseorang lupa pada dirinya.
Gila: lupa hanya bagi mereka yang tidak pernah ingat. Dan sampai sekarang aku masih mengingat semuanya, menyimpannya dalam sebuah kemauan meski harus kulupakan diriku sendiri.
P. Tua: kamu ini sangat keras kepala. Sampai kapan hidupmu akan seperti ini ?menyerahlah, hidupmu kini macam binatang saja !
Gila: biarlah aku seperti binatang, tidak usah di pedulikan.
P. Tua: tidak usah di pedulikan ?.
Gila: ya.
P. Tua: Cukupkan sampai disini kataku. Semuanya akan sia-sia, pulanglah !
Gila: tidak usah perdulikan aku !
P. Tua: baiklah jika itu jawabanmu. Jika ada keinginan dalam hatimu untuk pulang, lekaslah, jangan membuang waktu disini sebagai seorang pecundang.
Gila: (haanya terdiam sambil menghela nafas panjang).
Perempuan tua itu pun pergi . Terdengar suara si gila bernyanyi dengan nada yaang kecil.... Setelah itu terlihat seorang laki-laki keluar dari rumah. Ia menggunakan baju kemeja dan celana panjang rapi dan duduk di kursi. Terlihat ia sedang menunggu seseorang.
Abdul: kenapa lama benar mereka datang !. Padahal sudah jam segini, dasar pemalas. Giliran meminta gaji cepat sekaali datangnya, pas giliran seperti ini, lama benar macam keledai. Awas saja nanti, gajinya pasti akan kupotong. (Setelah terdiam suamipun memanggil istrinya). Las, sulaassss.
Sulas: iya mas.
Abdul: ambilkan aku rokok dia atas meja.
Sulas: iya tunggu sebantar.
Abdul: jangan lupa buatkan aku kopi juga.
Sulas: iya.
Abdul: (setelah menunggu sulaspun belum juga datang). Sulass apa yang kau kerjakan didalam sana ? Kenapa lama benar ?(Sulaspun keluar membawa rokok dan kopi.). kenapa lama sekali ?
Sulas: maaf mas, airnya tadi belum panas. Makanya lama.
Abdul: kenapa tidak masak air dari semalam dan kau taruh didalam termos ?
Sulas: lupa mas.
Abdul: lupa ?. Sudah tahu setiap hari aku tidak bisa jauh dari kopi. Kau seharusnya menyiapkannya dari semalam. Sekarang alasanmu lupa ? Kau lupa apa benar-benar tidak mau mengurusiku hah?
Sulas: bukan begitu mas. Aku benar-benar lupa. Lagian tidak hanya satu yang aaku kerjakan di rumah ini. Mas kan tau.
Abdul: apa ? Hahaha dasar. Kerjaanmu kan cuma mengurus rumah saja. Sekarang kau bilang tidak hanya itu yang aku kerjakan ?. Bilang saja kalau kau memang muali bosan mengurusiku kan ?
Sulas: astaga mas. Jangan terlalu beranggapan seperti itu kepadaku. Aku benar-benar lupa.
Abdul: aaaahh katakan saja bahwa itu memang benar. Aku mulai muak mendengar seribu alasan yang keluar dari mulutmu itu !
Sulas: jangan berkata seperti itu kepadaku. Selama ini aku selalu mencoba menjadi apa yang mas inginkan. Beginilah begitulah tapi tetap saja semuanya tidaak pernah benar di matamu.
Abdul: kalau kerjaanmu benar ya tetap akan benar. Jelas-jelas kerjaanmu itu tidak pernah becus.
Kemudian datanglah oraang-orang yang dari tadi ditunggu oleh suaminya sulas.
Mbul : assalamualaikum
Suami daan istri: waalaikum salam
Suami: kau masuk saja ( kepada sulas). Kenapa lama sekali kalian datang ( sambil menyalakan rokok).
Mbul: maaf bos. Tadi di toko kerjaan yang belum selesai.
Abdul: apa yang belum selesai ?.
Ucup: di tokooo..
Abdul: aahh. Dengar Aku mempekerjakan kalian itu bukan untuk santai-santai.
Mbul: maaf bos. Barang-barang yang di pesan kemarin tadi betul sampainya, dan itu harus kami sortir. Makanya kami terlambat datang kesini.
Abdul: sekarang sudah kalian sortir semua?
Ecep: ohhh.... sudah lah bos.
Abdul: bagus. Oh ya, bagaimana perkembangan toko ?
Ucup: lumayan bos.
Abdul: loh kok lumayan ?.
Ucup: ya lumayan bos.
Abdul: kenapa bisa sampai lumayan ?. Apa ada kesulitan ? Atau apa ?
Mbul: tidak ada si bos. Tapi sekarang toko kita mulai jarang ada yang datang untuk belanja.
Abdul: kenapa bisa begitu ? (Dengan nada terheran).
Ucup: Karena sekarang orang-orang lebih sering ke tokonya pak Ja’uh.
Suami: si ja’uh ?. Kenapa bisa ?
Ecep: begini bos. Kata orang-orang harga beras, minyak, rokok, segala sesuatu di toko kita itu terlalu mahal.
Ucup: benar bos. Saya juga setuju sih sama-orang itu. Harga di toko kita terlalu mahal. Wajar saja orang-orang ke tokonya pak Ja’uh. Masa kondom saja harganya 30 ribu. Iya kan cep ?
Ecep: iya cup. ( keduanya tertawa)
Mbul: eh... jangan berkata seperti itu nanti bos marah.
Abdul: ah sudah-sudah. Pokoknya aku tidak mau tau. Toko itu harus rame lagi. Bagaimana pun caranya.
Ucup: bagaimana pun bos ?
Abdul: bagaiman pun.
Ucup: baiklah bos kalau begitu...
Abdul: awas saja kalau toko tidak rame. Kalian tidak pernaah mendapatkan gaji !!
Ecep: haaahh. Wah wah jangan begitu dong bos. Kemarin gaji kami di potong. Nah sekarag masa tidak di kasih gaji. Bisa makan batu anak istri dirumah.
Abdul: makan tiang sekalian saya tidak perduli.
Ucup: wah kalau begini caranya bisa berabe cep.
Ecep: aahh matilah kita cup.
Mbul: eh cep, cup.
Abdul: sudah-sudah. Persetan dengan kalian, harga, dan gaji juga. Pokoknya saya tidak mau tau apapun alasan kalian. Toko kita harus rame !!!
Mbul: baik bos.
Abdul: apa yang kalian tunggu ?
Ucup: ee begini bos. Kan pas tadi kami kesini naik ojek nah uang kami habis tadi buat bayar ojek. Jadi tidak ada uang lagi.
Abdul: terus kalian mau apa ?
Ucup: m m m m minta ongkos dong bos
Abdul: oh ongkos ?
Ucup: eee iya bos ongkos
Abdul: tunggu sebentar ya( masuk ke dalam rumah)
Ucup: wah cep, tumben benar bos kita baik itu hatinya
Ecep: iya cup. Mimpi apa dia ya.
Ucup: mungkin kesurupan cep hahahaha
Ecep: bisa jadi cup. Bayangkan orang yang paling pelit di negeri ini tiba-tiba menjadi baik... lluuuaaaarrr biaaasss cup
Ucup: luaaaaarr biasa.. cep maanteepp
Mbul: Cep Cup ( sambil mengedipkan mata)
Ecep: apa sih kamu mbul. Eh cup seemoga saja bos kita tiap hari kesurupan ya.
Ucup: ammmiiinn ya alllah
Mbul: ecep, ucup. Itu itu.... (langsung pergi diam-diam).
Ucup: apa sih mbul. Laah wooy kenapa pergi ?. Aaah dasar si gembul, uang kok di tolak.
Abdul: eheem. ( sambil membawa golok)
Ucup: innaillahiwainnailahirajiun.
Abdul: apa ? Jadi mau minta ongkos ?
Ecep: ah tidak bos lebih baik kami jalan kaki saja. Biar sehat. Ia kan cup ?
Ucup: ia cep. Lebih baik jalan kaki saja.
Ecep: cup... hitung mundur
Ucup: 3 2 1. Llaaaarrriiiiiii cuuuuppp..
Ecep: tungguuuu....
Abdul: dasar pekerja tidak tau diri, sudah tau toko mulai sepi, malah minta uang.
Para pekerja itu pun pergi. Sementara itu si gila tetap saja melihat ke dalam rumah. Sedang abdul sibuk memikirkan masalah tokonya yang tidak ada perkembangan.
Abdul: kenapa bisa toko si Ja’uh bisa lebih ramai dari toko saya sekarang. Padahal dulu tidak seperti ini. Aaahh masa masalah harga di jadikan alasan. Atu mungkin si Ja’uh menggunakan jampi-jampi ?. Waah ini tidak bisa di biarkan. Sepertinya aku sendiri harus turun tangan. Bagaiamanpun caranya toko si Ja’uh harus hancur. Awas saja kamu ja’uh berani-beraninya bersaing denganku. Rupanya kamu belum tau siapa si Abdul orang paling kaya di kampung ini.
Setelah itu si abdul pun pun pergi tanpa berfikir lagi. Sedang si gila mulai bernyanyi dengan suara yang kecil, memperhatikan ke dalam rumah. Keluarlah suci anaknya sulas dengan membawa sebuah buku dan si gila memperhatikannya... tiba-tiba sulaspun keluar..
Sulas: baca buku apa nak ?
Suci: buku puisi bu..
Sulas: puisinya siapa ?
Suci: sapardi.
Sulas: sapardi djoko damono ?
Suci: iya, kenapa bu ? (Melihat wajah sulas yang terdiam)
Sulas: ah ? Tidak apa-anak nak.
Anak: bisakah ibu mendengarkan saya membacanya ?
Sulas: ah ?
suci pun mulai membaca puisi aku, sedang sulas terdiam, air matanya menetes karena teringat sesuatu
Suci: kenapa ibu menangis ?
Sulas: tidak ada. Ibu mau masuk ke dalam dahulu.
Sulas pun masuk ke dalam rumah. Suci pun mengejar ibunya namun tertahan karena mendengar suara si gila yang mengulang puisi aku dengan nada yang sendu.
Gila: aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Suci: (suci hanya terdiam memandang si gila dengan rasa heran).
Gila: sudah 18 tahun aku berada disini. Mengabdikan rasa yang tak sempat di abadikan. Waktu tidak terasa cepatnya. Hari berganti bulan pun terganti. Waktu berlalu. Kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa pula tuhan menghukumku dengan cara seperti ini. Sudah sangat lama aku menantikam sebuah cahaya di seberang jalan. Namun tak kunjung datang karena gelap terlalu pekat. Aku teringat ketika kami sedang duduk di perpustakaan. Membuka selembar puisi dan kami membacanya. Gelak tawa bahagia akan cinta terasa. 6 tahun lamanya kami menjalin cinta. Di bangun oleh air mata. Setiap detik yang terlewati adalah saksi kesetiaan akan cinta yang kami perjuangkan. Setiap waktu yang terlewati pula merupakan bukti dari segala yang kami perjuangkan.
Suci : apa ? (Mendekati si sgila)
Gila: ya, kata orang cinta adalah sebuah petaka yang menakutkan. Sebab jika salah jalan semua akan terasa seperti engkau terbawa oleh arus tanpa sedikitpun bisa berenang.
Suci : cinta adalah sebuah petaka ? Arus yang menakutkan ? Apa yang sedang kamu bicarakan ?
Gila: mungkin takdir yang terlalu kejam atau mungkin sebuah pilihan yang terlalu membunuh. Apakah kita bisa mengulang kembali semuanya ?
Suci: mengulang ? Apa yang akan di ulang ?
Gila: bagiku, engkau adalah sebuah kejahatan. Menanamkan rindu. Dan menyiksa tanpa bekas-bekas luka. Ya kau jadi rindu itu sebagai penyiksaan tanpa bekas-bekas luka.
Suci: apa yang sedang kamu bicarakan ?
Gila: dia sudah menjadi milik orang lain.
Suci: siapa itu ?
Gila: sewaktu ia akan pergi. Ia berkata “ kita telah menjadi sepasang kekasih yang akan selalu saling mencintai. Berjanjilah cinta kita akan tetap sama”. dan ia pun pergi entah kemana.
Suci: kenapa ia pergi ? Apakah kalian sudah tidak saling mencintai?
Gila: aku mencarinya, tapi tak kutemukan. Akhirnya kuputus asaan datang dalam hatiku. Dunia yang telah terbangun oleh cinta selama 6 tahun lamanya hancur oleh sebuah kata perpisahan dari mulutnya yang kejam ! ( meneteskan air mata )
Suci: aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan ?
Gila: siapa yang harus kupersalahkan? . Padahal sekarang kita hidup dalam kedekatan yang teramat. Tapi mengapa terasa jauh. Sangat jauh. Tombok itu telah memisahkan kita. ( ia pun kembali tertidur ke tempatnya sambil meneteskan air mata).
Suci: kenapa menangis ? Apa yang sebenarnya terjadi ?
Gila: (hanya terdiam dan memeluk tubuhnya tak mengucapkan sepatah kata lagi).
Suci: cinta itu malapetaka. Sebuah kejahatan. Rindu yang menyiksa tanpa bekas. Tembok pemisah. Apa yang sebenarnya dari tadi ucapkan orang gila. Kenapa dia berbicara tentang cinta ?. Kenapa dia menangis ?. Kenapa dia begitu keliahatan terluka ?.
Datanglah suaminya sulas dengan muka kesal dan penuh dengan amarah.
Suci: pak.
Abdul: iya apa ?
Suci: apakah cinta itu sebuah penyiksaan ?
Abdul: kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu ?
Suci: aku hanya ingin tahu. Apakah benar cinta itu adalah sebuah penyiksaan. Bahkan sebuah kejahatan yang teramat
Abdul: kamu ini masih kecil tapi bahasamu seperti orang dewasa saja.
Suci: ya kan hanya ingin tau pak.
Abdul: ya sudah.
Suci: lah terus jawabannya apa pak ?
Abdul: baik. Begini jadinya. Cinta itu adalah sebuah anugrah dari tuhan. Jadi segala sesuatu yang diberikan oleh tuhan terlebih itu cinta tidak ada penyiksaan.
Suci: terus kenapa orang sampai-sampai tidak mengenal dirinya karena cinta ?
Abdul: itu karena mereka sendiri.
Suci: berarti bukan cinta yang kejam?
Abdul: ya bukan. Ah sudah jangan bahas masalah cinta-cinta. Bikin puising saja.
Suci: lah kok pusing pak ?
Abdul: ya pusing. Dari pada ngomong cinta, lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam terus belajar.
Suci: terus kenapa bapak pusing ngomong masalah cinta. Berarti bapak dulu pernah...
Abdul: kamu ini banyak tanya. Sudah masuk ke dalam sana!. (Suci pun masuk ke dalam). Kenapa anak itu membahas masalah cinta. Kesambet jin apa dia itu. (Menyalakan rokok kemudian terdiam). Cinta ya ? Ternyata lucu juga mendengar si suci ngomong masalah cinta. Iya memang benar cinta itu adalah penyiksaan. Terlebih bagiku adalah sebuah kekecewaan. (Terdengar suara panggilan dari luar abdul pun tersadar.)
Orang misterius: booss
Abdul: siapa ? Ah, bagaimana?
Orang misterius: sudah bos.
Abdul: bagus. Tidak ada yang melihat kan
?
Orang misterius: tidak ada seorangpun yang melihat bos.
Suami: baguss. Ini buatmu. Nah sekarang kamu pergi dari kampung ini. Jangan sampai ada orang yang tau.
Orang misterius: baik bos. Kalau begitu saya pergi dulu.
Suami: iya cepat. Ingat jangan sampai ada yang melihat.
Pekerja 4: baik bos. Permisi....
Suami: (tertawa dengan girang).. sekarang tidak akan ada lagi yang menjadi sainganku.
Sulaspun keluar dari rumah karena mendengar abdul berbicara sama seseorang.
Sulas: ngomong sama siapa mas ?
Abdul: tidak ada.
Sulas: tadi saya mendengar mas ngomong.
Abdul: iya, tadi aku ngomong sama si gila.
Sulas: hah ? Mas ngomong apa ?
Abdul: Tidak penting.
Ketika abdul dan istrinta sedang ngobrol datanglah paraa pekerja dengan gupuh nafashya terengah karena kelihatan dia berlari menuju rumah abdul.
Ucup: bosssss
Abdul: ada apa ?
Mbul: ada kabar bos.
Ucup: betul bos. Kabar baik dan buruk.
Sulas : kabar baik dan kabar buruk ?
Ucup: betul nyonya.
Abdul: baik buruknya apa ?
Ucup: mau baik dulu apa buruk dulu bos?
Abdul: kamu maunya apa ? Mau parang atau mau di hajar ?
Ucup: anu bos. Tokonya pak ja’uh
Sulas: tokonya kenapa ?
Ucup : tokonya terbakar nyonya.
Sulas: innalillahiwainnailahirajiun. Kenapa bisa ?
Abdul: hah, tokonya si ja’uh terbakar ?
Mbul: betul bos.
Abdul: alhamdulillah
Mbul: lah kok alhamdulillah bos ?
Abdul: ya karena sekarang tidak ada lagi yang menjadi sainganku.
Ucup: astaga bos. Bisa-bisanya berkata seperti itu. Apa dulu pas sekolah tidak pernah di ajarkan prikemanusiaan ?
Mbul: eh cup.
Ucup: apa ?
Mbul: Bos kan tidak pernah sekolah.
Ucup: oooh pantes.
Abdul: apa kamu bilang ?. Oh sekarang sudah berani sama saya ya ?
Ucup: a a a maaf bos bukan begitu.
Abdul: aaah setan. Eh cup, dengar, dengan terbakarnya toko pak ja’uh otomatis toko kita akan ramai lagi nanti sebab tidak akan ada saingan. Paham kamu ?
Ucup: oh betul juga bos..
Abdul: makanya alhamdu....
Ucup dan mbul: lillah
Sulas: mas tidak boleh berkata seperti itu. Tidak baik.
Abdul: aaah sudah diam saja kamu. Katakan yang baiknya apa ?
Mbul: seperti yang bos bilang tadi toko kita mulai ramai lagi gara-gara tokonya pak ja’uh terbakar. Rata-rata sekarang orang-orang itu belanja di toko kita.
Abdul: apa aku bilang. Betul kan ?
Ucup: betuuull bos. Ya sudah kalau begitu kami balik ke toko dulu.
Abdul: ya sana.
Mbul: mari bos. Assalamualaikum
Sulas & abdul: waalaikumsalam.
Suci: mas tidak boleh berkata seperti tadi.
Abdul: kamu mulai lagi !
Suci: bukan begitu. Tapi tidak baik mas. Seharusnya kita mendoakan semoga pak ja’uh bisa tabah dalam menghadapi ujiannya.
Abdul: alah kamu ini mulai ceramah. Jadi saja ustazah. Jangan jadi istriku
Sulas: lah kok mas berkata seperti itu. Kan maksud sulas baik.
Abdul: aaaah persetan dengan maksud baikmu. Kalau tidak tahu apa-apa diam saja.
Sulas: kenapa mas begitu kasar terhadap saya ? Kenapa selalu saja mas marahi saya ?
Abdul: fikir saja sendiri
Sulas: Dari awal kita memabngun sebuah rumah tangga. Mas tidak pernah halus mengahadpi saya. Apa sebenarnya yang saya perbuat sampai mas seperti ini ?
Abdul: apa yang telah kamu perbuat ? Hahahha memangnya kamu tidak merasa ?
Sulas: apa mas ?
Abdul: dari dulu sampai sekarang kerjaanmu ikut campur urusan saya !
Suci: kan saya istri mas.
Abdul: ya memang. Tapi kamu telah mengecewakan saya.
Sulas: mengecewakan ? Apa maksudmu ?
Abdul: apa maksudku ? Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh hah ?
Sulas: kan dulu mas sendiri yang berkata bahwa mas mencintai saya apa adanya
Abdul: haahah. Eeh sulas kamu tau. Aku memang mengatakan hal itu. Sebab tidak ada pilihan lain. Kaalau saja aku tau lebih cepat tidak mungkin aku sudi menikah denganmu !
Coba kamu tanyakan pada seluruh suami di dunia ini kalau dia mendapatkan istri seepertimu pasti sudah dulu kamu diceraikan.
Sulas: sampai hati mas berkata seperti itu.
Abdul: ya sampai hati. Sekarang aku malah bertanya-tanya apakah si suci benar-benar anakku atau bukan.
Sulas: cukup jangan katakan apa-apa lagi. Kalau memang ini terlalu memberatkan ceraikan saja aku serakang !
Abdul: hah cerai ? Coba ulangi ?
Sulas: ceraikan saja aku sekarang !
Abdul: hahaha setan alas. Kenapa tidak dari dulu kamu minta hal ini ? Sekarang juga kamu pergi dari rumah saya. Bawa sekalian anakmu itu !
Sulas: baik, aku akan pergi. Asal kau tahu saja selama ini hatiku memendam pengap. Kau fikir aku juga sudi menikahmu denganmu hah ? Kalau saja orang tuaku dulu tidak memaksaku menikah denganmu tidak mungkin aku akan mau menikah seperti orang sepertimu. Tanyakan pada istri disulurh jagat raya ini, kalau mendapatkan suami sepertimu semuanya bakal bunuh diri karena sikap kerasmu itu !!!
Abdul: anjing diam kamu... (mau menampar tapi dihentikan oleh si gila)
Gila: tidak baik berkata seperti itu kepada perempuan, apalagi mau menampar.
Abdul: apa urusanmu setan ?
Gila: tidak ada. Hanya saja tidak baik seperti itu.
Abdul: anjing... kamu mau ikut campur urusan saya rupanya !!!
Sulas: sudaaahhh (dengan suara keras). Jangan kamu sentuh dia. Jangan kamu berani lukai dia bangsat !
Abdul: hahahha apa ? Jangan sentuh dia ? Kenapa kalau aku menyentuh dia ?
Sulas: jangan berani untuk menyentuh dia. Kalau kau berani aku akan membunuhmu.
Abdul: membunuhku ? Apa yang kamu katkana ? Hahahhaha apa kamu sudah gila ?
Sulas: iya aku sudah gila !
Abdul: baiklah. Kalau begitu kalian berdua pergi saja keneraka !!!! ( mau menikam tapi polisi datang seketika itu juga)
Polisi: letakkan pisau itu !
Abdul: ada apa ini ?
Polisi: maaf kami anda tahan karena telah melakukan pembakaran terhadap tokonya pak ja’uh.
Abdul: saya tidak pernah membakarnya!. Tuduhan apa ini ?
Polisi: ya anda memang tidak melakukannya. Tapi anda menyuruh orang untuk membakar toko itu.
Abdul: apa ? Siapa yang menyuruh ?
Polisi: silahkan ikut kami kekantor.
Abdul: saya tidak pernah melakukannya. Tuduhan macam ini. Setan siapa yang melakukan ini padaku. Anjing kalian berdua, tunggu saja, aku pasti membunuhmu setaaannnnnn... ( sambil di geret oleh polisi).
Tiba-tiba suasana hening. Si gila dan sulas hanya terdiam saling menatap. Terlihat sulas sangat cemas dan takut ke pada si gila. Ia pun mencoba berbicara.
Sulas: bagaimana kabarmu ?
Gila: tidak usah bertanya. Kau sudah tahu.
Sulas: jangan berkata seperti itu.
Gila: aku apa kamu yang harus tidak berkata seperti itu.
Sulas: tidak seharusnya kita menyalahkan siapa yang berbicara. Sebab ia keluar sendirinya dari mulut.
Gila: benar. Tidak seharunya kita menyalahkan siapa yang berbicara. Tapi bukan karena ia keluar dari mulut. Melainakan ia keluar karena sebuah kekejaman.
Sulas: kekejaman itu anya untuk mereka yang tidak berterima gus.
Gila: haha.. pandai sekali kamu berkata seperti itu.
Sulas: aku tidak suka melihatmu seperti ini
Gila: kamu kira aku suka ?
Sulas: aku tau kamu tidak suka.
Gila: terus kenapa berkata seolah-olah kamu tidak tahu.
Sulas: aku hanya tidak tau apa yang harus aku katakan padamu.
Gila: katakan saja kesalahanmu. Dengan begitu aku akan berterima
Sulas: salahku ?
Gila: lalu siapa lagi ?
Sulas: Bukannya sudah kukatakan padamu sebelumnya.
Gila: ya, di perpustakaan tanggal 17 september. Kamu berkata kepadaku bahwa tidak ada selain diriku yang kamu cintai. Bahwa aku adalah satu-satunya kekasihmu. Kamu sendiri yang mengatakan itu bukan ?
Sulas: (hanya terdiam)
Gila: lalu kamu sambung. Bahwa senyuman yang selalu aku ciptakan untuk bibirmu adalah sebuah kebahagaiaan. Kamu berkata bahwa tidak selain diriku yang mampu membuatmu bahagia. Benar ?
Sulas: (tetap terdiam, airmatanya pun menetes)
Gila: lalu kamu sambung bahwa kita harus menciptakan jarak agar kita tahu bagaimana rasa dari sebuah rindu yang sebenarnya.
Sulas: (meneteskan air mata)
Gila: lalu kamu pergi. Meninggalkanku.
Sulas: kamu masih mengingat semuanya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutku terangkum betul di kepalamu. Tapi gus, aku tidak pernag meninggalkanmu.
Gila: kalau bukan meninggalkan lalu apa namanya ?
Las, kamu telah berhasil membuatku mengerti rindu itu apa. Bahkan aku sudah mengerti akan segala sesuatu yang kita sebut cinta itu sekarang. Ia adalah sebuah penyiksaan.
Sekarang aku bertanya. Apakah kamu telah mengatahui bagaimana perasaan rindu yang sebenarnya itu ?
Sulas: ya aku mengerti. Ia adalah sebuah keharusan sebab jarak telah kita ciptakan dan itu kusebut sebagai rindu.
Gila: bukan hanya jarak. Kamu telah membuat dinding tebal yang tak akan pernah bisa aku tembus. Dari dinding itulah rindu itu menjadi sebuah penyiksaan tanpa bekas-bekas luka!.
Sebelum dinding itu dapat kujumpai. Apa kau tahu ? Aku seperti orang mati yang mencari kuburannya sendiri. Berjalan kesana kemari hanya untuk mencari sebuah alasaan kenapa mesti aku ditinggalkan. Lalu kutemukan kabar dari teman bahwa dia berada di sini.
Sampai kudisni. Kudapati rinduku telah menjadi dinding tebal. Sangat tebal sampai aku tidak dapat menembusnya. Aku hanya mampu melihaat bahwa kekasihku yang dulu telah berada dipelukanku kini ia berada di seberang jalan bersama rindunya yang tak ia mengerti.
Kenapa ? Kenapa kita terasa begitu jauh padahal kita sangat dekat !!!!
Sulas: maafkan aku gus.
Gila: tidak usah meminta maaf.
Sulas: ketika itu aku memang dalam kebingungan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Orang tuaku memaksa betul aku menikah dengan abdul. Aku melawan kemaunnya namun percuma. Bahkan ia ingin membunuh diri jika aku tidak mengikuti kemaunnya. Aku bingung gus. Itu alasan kenapa aku ingin berjumpa denganmu di perpus tanggal 17 september. Aku ingin mengatakan bawa aku lari, mari kita ciptakan sebuah kebahagiaan meski tanpa restu. Tapi aku teringat ke dua orang tuaku.
Gus kamu adalah kekasihku. Tapi orangtuaku adalah hartaku gus. Mengertilah itu bukan kemauanku.
Gila: kamu kira, aku berada di tempat ini karena kemauanku ? Bukan las. Ini semua kemauan hatiku !
Sulas: hatimu ?
Gila: ya hatiku. Hati yang terlalu percaya kepada cinta. Apa kau tahu las, setiap detik yang aku lalui selalu menjelma menjadi sebuah harap. Dan harapan itu ku tumpuk menjadi air mata, lalu keteguk ia dalam-dalam agar tak seorang pun tahu. Bahwa aku telah menghianati tuhan dengan cara mencintai manusia.
Selama 18 tahun ini aku menelan semua. Apa kamu tidak pernah merasakan derita yang aku tanggung ? Kamu sendiri yang berkata kepadaku apapun yang terjadi kita akan selalu bersama. Tapi apa ? Apa yang telah kamu lakukan ?
Setiap hari aku menanti kabarmu setelah kamu ucapkan itu. Sebuah janji yang telah membuatku percaya bahwa tuhan telah memebrikan cinta kepada kita. Dan cinta itu kita bagi bersama-sama. Tapi kamu malah pergi bersama orang lain.
Sulas: gus mengertilah keadaanku waktu itu.
Gila: kapan aku tidak pernah mengerti Las?
Setiap kata yang keluar dari mulutmu selalu kupercayai. Apakah aku pernah mengecewakanmu selama ini ?
Sulas: tidak pernah gus. Tapi kamu juga harus tau. Kamu tidak terluka sendirian sayang.
Gila: apa ?
Sulas: haruskah kita bertengkar dengan cara yang seromantis ini?
Berbicara tentang sakit tidak akan pernah berujung gus. Kalau salah satu dari kita tidak mendapatkan kepuasaan akan apa yang terjadi.
Aku tau deritamu. Aku mengerti bagaiamana sakitmu. Sebab aku pun merasakn semuanya.
Jadi usahlah kita berbicara tentang sakit. Mari kita simpan semua kenangan pahit ini dan kita jadikaan sebuah kebahagiaan.
Lihatkah aku sekarang. Tidak memiliki siapa-siapa. Aku telah diceraikan oleh suamiku dan sekarang hanya ada anaku.
Bisakah sedikit hatimu memafkanku lalu kita bangun impian yang dulu kita susun bersama.
Sekarang kita wujudkan semua itu.
Bagus pun terjatuh sambil memegang dadanya. Ia terkapar kesakitan.
Sulas: kenapa denganmu ?
Gila: tidak apa-apa sayang. (Sambil tersenyum kesakitan)
Sulas: jangan bohong !
Gila: tidak usah kamu fikirkan. Aku baik-baik saja.
Sulas: benar ?
Gila: kapan aku pernah membohongimu sayang.
Sulas: (tersenyum mendengar bagus tidak apa-apa)
Gila: Maafkan sikapku yang tadi. Itu hanyalah sebuah amarah yang aku pendam selama 18 tahun ini.
Sulas: tidak apa-apa sayang. Maafkan aku juga atas semuanya.
Gila: iya sayang. (Menggenggam tangan sulas) bisakah kita melakukan hal dulu sering kita lakukan bersama ?
Sulas: tentu sayang tentu
Gila: kamu saja yang memulainya ( dengan senyuman)
Mereka berduapun berpuisi seperti yang sering mereka lakukan.
Sulas: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Gila: Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Gila: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Sulas: Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Si gila pun terjatuh dan meninggal setelah membaca puisi itu juga. Sulas berteriak sejadi-jadinya dan menangis tersedu-sedu.
Sulas: guss gusss.... kamu kenapa sayang ? (Memeriksa dadanya bagus. Seketika itu pula sulas berteriak dan menangis dengan lantang).
Jangan pergi sayang jangan pergi.
Lihatlah sekarang aku sudah berada disini. Aku sudah menjadi milikmu. Tidak ada lagi dinding yang akan mengahalangi kita.
Bangun sayang. Ayo bangun kekasihku jangan tinggalkan aku disini.
Gussssss jangan pergi.........
Fade Out.
Komentar
Posting Komentar