Naskah kuno sasak

NASKAH KUNO DALAM MEMAHAMI BUDAYA DAN AGAMA

Penelusuran naskah kuno berlangsung hanya sehari, tepat pada 19 Oktober 2019 pukul 16:00 WITA saya berkunjung ke salah satu sanggar wayang di daerah Mataram, alhamdulillah saya merasa dipermudah oleh Allah SWT.  Sebelumnya saya sudah mengenal informan yang akan saya datangi. Karena beberapa kali belajar bermain wayang bersama beliau atau sering disapa Mamiq sadar selaku informan yang bertempat tinggal di Kekalik Jaya. Mamiq sadar atau lengkapnya bernama Sadarudin Ki Ajeng Maringgih ini selaku ketua sanggar amiranjili kota mataram, aktif sebagai budayawan NTB, dan sekaligus guru saya dalam mempelajari dunia wayang khususnya bermain alat musik tradisional. Mamiq sadar pun bergulat pada dunia wayang sejak masih muda dan sebagai penerus dari almarhum ayahnya. Mamiq bercerita mengenai sebuah pengalaman yang dirasa perlu untuk memotivasi kita mempelajari naskah kuno. Pada suatu hari, Mamiq Sadar melakuan pertunjukan wayang yang seperti kita ketahuai, pertunjukan wayang selalu diadakan pada malam hari. Singkat cerita saat mamiq melakukan pertunjukan wayang, Mamiq tidak bisa melanjutkan ceritanya, dihadapan penonton yang antusias menonton pertunjukan wayang, Mamiq dihujat karena tidak bisa membaca, “Begitu dah, dalang yang ndak bisa membaca dan menulis. Bisanya cuma begitu saja”. Dari hujatan yang diterima Mamiq, beliaupun termotivasi untuk bisa menulis dan membaca naskah kuno, bukan menghafal. Dari cerita singkat Mamiq Sadar ini, dunia wayang tidak terlepas dari dalang yang mempunyai kemampuan untuk membaca naskah kuno.
Pada proses pencarian, saya diperkenalkan dengan naskah kuno labangkare yang dimiliki oleh Mamiq Sadar. Sore itu saya dibimbing melakukan ritual nyeput untuk mengetahui isi lembaran dari naskah labangkare. Ritual adalah tata cara dalam upacara keagamaan dan nyeput adalah proses mengambil lembar naskah. Jadi, ritual nyeput adalah tata cara pada proses mengambil lembar naskah pada naskah kuno.  Setelah naskah dibuka, kemudian saya mengambil satu lembar naskah halaman pertama. Yang saya analisis pada naskah labangkare ini ialah tembang sinom, yang dimana tembang sinom terdiri dari sembilan baris. Pembacaan tembang sinom dibacakan oleh Mamiq Sadar sendiri, pembacaan tembang ini mirip seperti mengaji. Setelah Mamiq membacakannya dalam bahasa Kawi kemudian Mamiq menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Naskah kuno labangkare sudah menginjak usia 90-100 tahun, memiliki panjang kurang lebih 20 cm. Mengapa dinamakan labangkare, karena dalam naskah ini terdapat tokoh  yang bernama labangkare. Naskah ini menceritakan tentang panjian atau si labangkare yang mencarikan obat untuk raja hingga menembus langit ketujuh, yang dimana setiap langit dijaga oleh masing-masing penjaga, hingga langit ke tujuh bertemulah labangkare dengan penjaga dan penjaga itu memberitahukan bahwa pintu ini akan terbuka apabila ia hendak membuka diri kepada orang yang tepat membacakan doa atau mantra kepada pintu tersebut. Apabila mantra atau doa tersebut tepat, maka pintu itu akan terbuka dengan sendirinya. Labangkare pun membacakan doa dan pintu pun terbuka dan labangkare bertemu dengan putri Kendra yang memiliki obat untuk raja.

Ternyata secara perumpamaan, kisah Labangkare ini tergambar melalui kisah Israq dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Yang mampu menembus tujuh lapis langit atas izin Allah. Yang kemudian rekam jejak tersebut terlampir dari setiap kisah labangkare ini. Salah satu lembar menunjukkan lempiran yang tepatnya pada halaman 166 yang menceritakan pada saat labangkare sudah berada di depan pintu langit ketujuh untuk bertemu Putri Kendra prihal meminta obat untuk Sang Raja yang sedang sakit.

Hal- hal yang bisa saya kaitkan terhadap naskah labangkare dan kisah Isra’ Mi’raj ialah mencari kebenaran dengan melakukan pencarian (pencarian secara fisik dan non-fisik seperti membaca,dsb), membangun komunikasi yang baik dengan umat agama lain, kemanusiaan yang lebih tinggi, dalam artian manusia yang punya peluang berbuat kesalahan namun berhasil menjadi yang terbaik dihargai lebih tinggi daripada penjaga pintu atau malaikat yang tidak berpeluang melakukan kesalahan.

Sebagaimana yang dikisahkan pada naskah labangkare penjaga pintu pun tidak bisa masuk ke dalamnya dan bertemu dengan putri kendra, sama halnya dengan Isra’ Mi’raj bahwa malaikat Jibril pun tidak punya hak untuk masuk ke tempat tersebut. Kemudian, semua pengalaman spritualitas yang didapatkan dari sholat dan kegiatan spiritual lainnya harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial yang nyata. Sebagaimana naskah labangkare ini merupakan cerita tentang panjian yang bermula dalam istana kemudian keluar ke masyarakat dan kembali lagi ke istana. Labangkare yang keluar dari istana untuk mencari obat sampai ke langit ke tujuh, dapat diartikan bahwa dalam menyikapi tantangan hidup perlu melakukan perjalanan untuk mencari, menaikan derajat spiritualitas, dan dalam kehidupan nyata untuk melaksanakan tindakan sosial kemudian melaksanakan transformasi sosial dan obat yang dibawa oleh labangkare yang menyimbolkan hubungan masyarakat yang dinilai berdasarkan kualitas kebaikan manusia bukan status sosial dan kekuasaan semata.




Komentar

  1. Nice, tp klo ada dokumentasi foto, it will be better

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Tulisan yang cukup menarik. Mengangkat tema yg mulai dilupakan masyarakat, yaitu wayang. Tidak hanya itu, tulisan ini juga menyisipkan beberapa cerita yang mengandung nilai filosofis dan pesan moral. Namun ada kesalahan dalam penulisan kata yang masih perlu diperbaiki. Sebagai catatan, sebelum tulisan ini dipublikasikan, perlu bagi penulis untuk membaca dan memeriksa kembali kata demi kata agar ke depannya dapat menghasilkan tulisan yg lebih baik lagi. Nice Lillah ☺

    BalasHapus

Posting Komentar